Mengapa Sajadah Selalu Memiliki Bentuk yang Sama?

Mengapa Sajadah Selalu Memiliki Bentuk Yang Sama?

Terkadang kita tidak memerhatikan hal-hal kecil ini. Namun, pernahkah kalian penasaran? Sebenarnya asal mula digunakannya sajadah sebagai alat shalat tuh kenapa sih…

Dilansir dari situs umma.id, pada awalnya alas shalat yang digunakan oleh Umat Islam pada zaman pra-modern yaitu pelepah pisang dan pelepah kurma, meskipun ada beberapa riwayah yang menyebutkan Rasulullah pernah juga menggunakan kain sebagai alas shalatnya.

Hal tersebut didukung oleh tulisan dari kitab Ibnu Batutah, ia berkata “Orang-orang pinggiran di Kairo Mesir terbiasa keluar rumah untuk melaksanakan Salat Jumat. Para pembantu mereka biasanya membawakan sajadah yang terbuat dari pelepah-pelepah pisang, dan menghamparkannya untuk keperluan salat mereka. Pada masa tersebut (masa Ibnu Batutah) hingga sekarang penduduk Makkah melaksanakan salat di masjid jami menggunakan sajadah."

Penggunaan pelepah kurma atau pisang sebagai alas shalat juga berkaitan dengan tidak adanya keramik di masjid pada masa itu. Lantai masjid pada saat itu hanya berupa pasir sehingga lebih cocok menggunakan pelepah kurma dan pisang sebagai alasnya.

Dari Abu Sa’id berkata, ia pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersabda,

دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي عَلَى حَصِيرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ

Artinya: "Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di atas tikar, beliau sujud di atasnya." (HR. Muslim).

Sumber berikutnya mengatakan bahwa Rasulullah juga pernah menggunakan kain sebagai alas untuk shalatnya. Dilansir dari situs Pondok Pesantren Al Manhaj,

Rasulullah SAW bersabda,

اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلَاتِي

Artinya: "Bawalah kain ini ke Abu Jahm dan bawakan kepadaku kain milik Abu Jahm yang tidak bercorak, karena kain yang bercorak tersebut sempat melalaikanku dari salatku (mengganggu kekhusyu’anku)." (HR.Bukhâri dan Muslim dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma).

Alasan Sajadah Seperti Permadani

Sebenarnya awal mula penggunaan sajadah dalam shalat sudah ada sejak zaman kenabian. Nabi Muhammad SAW yang berdoa diatas tikar dengan susunan dari daun palem sebagai alas untuk memastikan bahwa ia beribadah diatas tempat yang bersih. Sesungguhnya penggunaan sajadah untuk shalat bukanlah sebuah hal yang menjadi kewajiban, karena Rasulullah SAW pernah bersabda, "Seluruh bumi telah dijadikan tempat sholat, kecuali kuburan dan kamar kecil" (Al-Tirmidzi).

Kemudian sajadah berkembang hingga menjadi seperti sekarang ini berkat akulturasi budaya yang terjadi pada saat Dinasti Utsmaniyyah berkuasa. Turki pada saat itu merupakan produsen karpet yang paling terkenal di seluruh dunia. Sejarah Karpet Turki atau yang biasa disebut permadani dimulai pada abad ke-13 yang diproduksi pada masa dinasti Seljuq Anatolia. Produksi karpet atau permadanai di Anatolia berpusat di wilayah Kayseri, Sivas, dan Konyas. Permadani Anatolia merupakan permadani yang amat terkenal di Dunia dan mengalami kejayaan selama 59 tahun, yaitu antara tahun 1243-1302.

Pada Abad ke-14, Dinasti Seljuq berhasil dikalahkan oleh Dinasti Ottoman dan mendirikan Kekaisaran Islam di Anatolia. Osman I menjadikan Anatolia dan Bursa sebagai Pusat kerajaan Ottoman. Pengaruh Ottoman tidak hanya berimbas kepada pemerintahan saja, akan tetapi seni pembuatan karpet juga ikut terpengaruh oleh kebudayaan Ottoman. Motif Karpet atau permadani yang awalnya didominasi oleh gambar-gambar binatang bergeser menjadi motif Geometri. Perubahan motif karpet dari gambar binatang menjadi motif geometri tidak lain karena beberapa Ulama Islam mengharamkan gambar makhluk hidup pada sebuah objek.

Mesir merupakan satu dari negara di Afrika Utara yang berada di bawah kekuasaan Ottoman. Kebudayaan mesir waktu itu juga dipengaruhi oleh Dinasti Ottoman, seperti gaya arsitektur masjid, seni kaligrafi, tak terkecuali karpet permadaninya. Dari sinilah cikal bakal Sajadah berawal. Karpet permadani yang awalnya digunakan sebagai alas lantai dan hiasan interior ruangan raja-raja dan kaum bangsawan di Anatolia, oleh Masyarakat Mesir diadaptasi dengan ukuran yang lebih kecil dan berfungsi sebagai alat sholat.

Zaman dahulu, permadani juga menunjukan status sosial seseorang: Semakin banyak permadani yang dimiliki, ia semakin kaya. Bahkan sampai sekarang, banyak jenis permadani tertentu yang memiliki nilai investasi.

Lalu, Mengapa Desain Sajadah selalu memiliki rumbai di kedua sisinya?

Alasan yang menyebabkan di kedua sisi sajadah selalut terdapat rumbai yaitu, karena pada zaman tersebut belum ditemukannya mesin jahit. Hal ini menyebabkan permadani dibuat secara manual, yaitu dengan cara ditenun. Sementara, rumbai pada awalnya adalah sisa benang diujung anyaman yang sengaja dibiarkan untuk menjaga tenunan agar tidak tercerai berai.


Meskipun pada zaman ini sudah ditemukannya mesin jahit, sehingga penenun tidak perlu lagi menyisakan benang-benang untuk menjaga sajadah yang sudah ditenun tersebut agar tidak tercerai berai. Hal ini tidak merubah karakteristik desain sajadah yang menyerupai permadani ala Persia. Selain untuk estetika, rumbai pada kedua ujung sajadah juga dapat berfungsi sebagai penghambat jalannya serangga menuju tempat shalat kita

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Politik Uang?