Partai Politik Islam di Indonesia
Partai Politik Islam
Partai politik sudah sewajarnya jika memperjuangkan hal-hal yang menjadi asas mereka. Salah satunya adalah Islam. Partai politik yang berasaskan Islam selalu eksis di kancah perpolitikan Indonesia sejak zaman pra-kemerdekaan hingga masa kontemporer. Jika menilik sedikit kepada sejarah terbentuknya partai politik dengan asas Islam, terdapat perbedaan yang mendasar antara partai yang menggunakan kepercayaan sebagai wadah perjuangan dan partai yang menggunakan perbedaan kelas sebagai motor perjuangannya.
Sigit Pamungkas di dalam bukunya mengatakan bahwa partai yang mengambil jalur perjuangan kelas membedakan dirinya dari partai lain berdasarkan pandangannya terhadap modal. Sedangkan partai yang mengambil jalur aliran atau kepercayaan membedakan dirinya dengan partai lain berdasarkan pandangannya terhadap dunia dan problematika di dalamnya, dan pandangan terhadap solusi atas problematika tersebut.Latar Belakang
Dari masa ke masa
partai berbasis agama kerap kali muncul di belahan bumi mana pun. Ada empat
faktor yang melatarbelakangi kemunculan partai politik berbasis Islam di
Indonesia. Pertama, kepercayaan yang dipahami oleh masyarakat di suatu negara
tersebut menjadikan agama sebagai sesuatu yang integral dan holistik dalam
mengatur segala dimensi, hal tersebut menjadikan agama dan politik sebagai
sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.
Kedua, berkembangnya anggapan di masyarakat yang berpendapat bahwa kaum agamawan memiliki jasa yang sangat besar dalam memperjuangkan kemer-dekaan. Hal tersebut berimplikasi kepada rasa kepemilikan umat Islam kepada negara ini. Sehingga merupakan hal yang wajar jika mereka ikut andil dalam membentuk pemerintahan dan memengaruhi segala kebijakan-kebijakan yang diambil oleh negara.
Ketiga, dengan jumlah
penduduk Indonesia yang mayoritas umat Islam maka mengakibatkan besarnya nilai
jual partai yang berbasis Islam. Merupakan hal yang normal jika pemeluk agama
Islam memilih partai sesuai dengan ideologi dan kepercayaan yang mereka anut,
hal tersebutlah yang menyebabkan besarnya kemungkinan sebuah partai Islam dalam
meraup suara.
Keempat, masyarakat yang beragama Islam menganggap bahwa partai-partai yang mengusung ideologi sekuler dipandang tidak mampu menyuarakan kepentingan mereka. Menurut hemat kami, hal tersebut terjadi karena hadirnya partai politik memang untuk mewakili kepentingan kelompok masing-masing. Jadi masyarakat bisa memilih partai politik yang sesuai dengan ideologi atau cita-cita yang dianutnya.
Asas Islam
Asas partai politik
menjadi salah satu instrumen atau faktor sentral bagi penentu keputusan dan
arah gerak partai. Asas merupakan pedoman dan pijakan bagi partai politik dalam
mengambil sikap dan tindakan pada kondisi-kondisi tertentu. Asas menurut KBBI
yaitu, suatu kebenaran yang menjadi pokok atau tumpuan berfikir. Dalam artian,
partai politik sebagai sebuah organisasi yang terstruktrur harus meletakkan
kebenaran sebagai titik tolak dalam merekonstruksi setiap kebijakan dan
tindakan.
Berbagai partai memiliki asas yang menjadi pijakannya,
salah satunya adalah asas Islam. Doktrin Islam yang menjunjung tinggi harkat
dan martabat manusia membawa semangat bagi perjuangan politik Indonesia dalam
pencapaian tujuan tersebut. Doktrin Islam tidak selalu menyebutkan tentang
akhirat, tetapi juga tentang dunia yang harus kita lewati berbagai ujian di
dalamnya.
Ketinggian iman seseorang tidak hanya dilihat dari pengamalannya
ketika mengerjakan ibadah. Tetapi ketinggian iman dan kedalaman taqwa seseorang
dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari. Dalam Islam, hasil pengamalan
spiritual tersebut harus diaktualisasikan dalam sikap-sikap aktif yang dapat
berupa penolakan terhadap regulasi yang tidak adil, protes terhadap kezaliman
kekuasaan, dan kesewang-wenangan penguasa.
Hal tersebut dikarenakan Islam sangat memerhatikan bidang-bidang yang mengurusi orang banyak. Maka atas dasar itu, kekusaan dipandang sebagai arena penting bagi Islam untuk mengatur kehidupan agar tidak terjadi kezaliman yang menimpa orang banyak. Dengan kekuasaan pula seseorang akan lebih mudah membuat peraturan dan mengaplikasikannya di dalam sosial masyarakat.
Sejarah Kemunculan Partai Islam
Masyarakat Indonesia
memahami Islam sebagai sebuah entitas yang sangat penting dalam kehidupan.
Sebagai sebuah kepercayaan yang dianut secara turun-temurun, Islam menjadi
pedoman hidup masyarakat Indonesia. Jika kita mengaitkan dengan keberhasilan
merebut kemerdekaan, Islam menjadi salah satu faktor yang tidak dapat
dipisahkan. Tidak lain dan tidak bukan karena spirit perjuangan yang dilakukan
oleh umat Islam pada masa itu.
Pada masa penjajahan Belanda, kesamaan agama (Islam)
dijadikan sebagai pemersatu dan alat untuk meraih kepercayaan dikalangan
masyarakat pribumi. Islam dijadikan sebagai pemersatu dan perlawanan ketika
umat berhadapan dengan penjajah maupun dengan pedangang China. Berdirinya
Sarekat Dagang Islam pada tahun 1912 bertujuan untuk melindungi dan
mengonsolidasikan pedagang Muslim dari kedua bahaya tersebut.
Dengan tujuan untuk merangkul semua golongan dan
membentuk sebuah organisasi yang menjadi wadah umat Islam. Nama Sarekat Dagang
Islam resmi diubah pada kongres pertamanya menjadi Sarekat Islam. Selain untuk
merangkul semua golongan, pengubahan nama tersebut juga memiliki tujuan untuk
menjadikan Sarekat Islam sebagai organisasi yang bergerak di semua bidang tak
terkecuali bidang politik.
Partai Politik Islam dari Masa ke Masa
Sarekat Islam pada
perkembangannya mulai tertarik membahas hal-hal yang non-politik menyangkut
sosial masyarakat kaum Muslimin. Sarekat Islam pernah menerbitkan sebuah
tafsiran Al-Quran yang disusun oleh petinggi Ahmadiyah Lahore. Hal tersebut
mengalami pertentangan dari organisasi Muhammadiyah karena terdapat banyak
ajaran Ahmadiyah yang dianggap melenceng.
Selain dengan Muhammadiyah, Sarekat Islam juga mengalami
pertentangan dari organisasi Persatuan Islam (Persis). Sarekat Islam menganggap
bahwa pem-bahasan mengenai masalah-masalah furu’ yang dibesar-besarkan dapat
berujung kepada perpecahan umat Islam. Sedangkan Persis menilai pernyataan yang
berpendapat perkara furu’ harus dikesampingkan, menyebabkan kemunduran Islam.
Dinamika dikalangan umat Islam yang mulai memanas
menjadikan sebuah dorongan untuk dibentuknya wadah kesatuan Umat Islam. Wadah
persatuan tersebut kemudian dibentuk dengan nama Majelis Islam A’laa Indonesia.
Pada masa pendudukan Jepang, MIAI dibubarkan seperti halnya
organisasi-organisasi lainnya dengan alasan dimanfaatkan oleh pejuang
kemerdekaan Indonesia.
1. Majelis Syuro Muslimin (Masyumi)
Sebagai
sebuah partai politik yang berasas Islam, Masyumi didirikan oleh Natsir,
Kartosoewiryo, dan Abdul Wahid Hasyim pada 7 November 1945. Pendirian Masyumi
tidak lama setelah pemerintah menyerukan pem-bentukan partai-partai.
Berdasarkan Muktamar Islam di Yogyakarta, Partai Masyumi disepakati sebagai
satu-satunya kendaraan politik umat Islam.
Pada tahun 1952 terjadi permasalahan
di internal Partai Masyumi yang mengakibatkan unsur PSII dan NU memisahkan
diri. Menurut hemat kami, perpecahan tersebut dikarenakan Masyumi merupakan
partai Islam yang bercorak modern dan fundamentalis. Kedua karakteristik
tersebut tidak sesuai dengan PSII dan NU yang bersifat lebih tradisional.
Salah satu tokoh yang sangat
berpengaruh di partai Masyumi adalah Muhammad Natsir. Natsir merupakan tokoh
reformis Islam yang banyak dari pemikirannya berdampak positif bagi Indonesia,
salah satu contohnya adalah mosi integral. Natsir merupakan tokoh organisasi
Persis yang berideologi Islam Modern dan acap kali menyerang ritual-ritual
menyimpang di tengah umat Islam.
2. Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti)
Perti
pada awalnya merupakan organisasi Islam tradisional yang lahir dari lingkungan
sebuah pesantren di Sumatera Barat. Perti lahir pada tanggal 20 Mei tahun 1930
dengan tujuan untuk menghalau penyebaran dan gerakan kaum Islam modernis
sekaligus benteng pertahanan golongan tradisionalis di Minangkabau. Pada tahun
1944 Perti bergabung ke Majelis Islam Tinggi (MIT) di Bukit Tinggi.[1]
Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti)
bertranformasi menjadi partai sehubungan dengan seruan pemerintah untuk
mendirikan partai. Pimpinan Perti memutuskan untuk menjadikan organisasi yang
mereka dirikan menjadi sebuah partai politik tersendiri. Dengan diputuskan
Perti menjadi partai politik maka dengan otomatis organisasi tradisional ini keluar dari MIT yang merupakan bagian
dari Partai Masyumi.
Perti menganggap bahwa MIT yang
kemudian bertranformasi menjadi bagian dari Partai Masyumi kurang memperhatikan
aspirasi kalangan tradisionalis. Hal tersebut diakibatkan karena Partai Masyumi
memang dipengaruhi oleh kalangan Islam Modernis. Kejelian yang dimiliki
pemimpin Perti membuat organisasi tersebut langsung bergerak cepat dengan
menjadikan Perti sebagai partai politik.
3. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
Kepekaan H.O.S
Tjokroaminoto terhadap bahayanya pemikiran kaum komunis membuat ia mendirikan
Partai Syarikat Islam (PSI) pada tahun 1923. Kemudian PSI mengubah namanya
menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia pada tahun 1929. Terdapat pertentangan
yang terjadi antara PSII dan kaum nasionalis, PSII mengatakan bahwa
nasionalisme datang dari manusia dan bukan berasal dari tuhan.
4. Partai Nahdlatul Ulama
Partai
Nahdatul Ulama merupakan salah satu sayap juang dari organisasi Nahdatul Ulama
yang telah berdiri sejak 31 Januari 1926. Serupa dengan organisasinya, PNU merupakan
partai yang berhaluan Islam tradisional yaitu Islam yang menjaga praktik
kebudayaan lokal dalam kesehariannya.
Pada tahun 1952, NU telah secara
resmi keluar dari Masyumi dan mendirikan partai politik sendiri. Keluarnya NU
dari Masyumi disebabkan oleh beberapa faktor yang mendasari. Salah satu faktor
yang paling besar adalah pengabaian Masyumi pada saat kabinet Wilopo dengan
tidak memberikan jatah menteri kepada NU.
Setelah berbentuk partai, PNU
mengikuti pemilu tahun 1955 dan mendapatkan 18% suara. Perolehan suara yang
sangat besar tersebut mengantarkan PNU menempati posisi ketiga setelah Masyumi
dan PNI. Awalnya PNU memperkirakan hanya mendapat 8 kursi, tetapi berdasarkan
hasil pemilu PNU mendapatkan 45 kursi.
Berbeda dari Mohammad Natsir yang menyerukan
mosi integral bagi kesatuan bangsa Indonesia, PNU justru lebih menyukai bentuk
negara yang federal. Untuk pembahasan ketatanegaraan, PNU beserta partai-partai
Islam lainnya mendorong penerapan Islam sebagai dasar negara. Meskipun pada
akhirnya PNU menerima UUD 1945 tetapi dengan catatan harus dijiwai dengan
semangat Piagam Jakarta.
Kemudian pada proyek kontroversial
Soekarno yaitu Nasakom, mayoritas partai-partai Islam menolak gagasan tersebut.
Tetapi lain halnya dengan PNU, ia menjadi bagian nasakom yang merepresentasikan
unsur agama. Kemudian unsur Islam yang berada dalam nasakom tersebut membentuk
sebuah aliansi dengan nama Liga Muslimin dengan anggota NU, Perti, dan PSII.
Sementara partai-partai yang menolak gagasan nasakom membentuk aliansi dengan
nama Liga Demokrasi.
5. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Sebagai
bagian dari desain restrukturisasi politik Orde Baru, negara memandang perlu
meneruskan pengendalian partai politik melalui penyederhanaan jumlah partai
politik yang ada. Penyederhanaan dilakukan dengan cara pengelompokan dari
sepuluh kontestan Pemilu menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok
sritual-material; kedua, kelompok material spritual; dan ketiga adalah golongan
karya.
Setelah melalui berbagai musyawarah
dan perundingan, pada tanggal 5 Januari 1973 berhasil disepakati pendirian
partai persatuan pembangunan (PPP). PPP berideologi Islam moderat yang tidak
jarang artikulasi yang disampaikan bertentangan dengan pemerintah. Isu-isu yang
dikritisi PPP dipandang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Seperti
Masuknya aliran kepercayaan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, dan asas
tunggal pancasila.
Dengan rumitnya dilema yang mewajibkan
setiap organisasi me-makai Pancasila sebagai asas tunggalnya, NU membuat
kejutan dengan menerima asas tunggal Pancasila lebih dahulu. Akhirnya PPP
mengganti asas Islam dengan Pancasila dan lambang ka’bah diganti dengan bintang
segi lima. Peraturan ini mulai menunjukkan bahwa pemerintahan orde baru
otoriter.
6. Partai Keadilan Sejahtera
Partai
Keadilan Sejatera merupakan sebuah partai yang lahir dari keberlanjutan pergerakan
mahasiswa yang dahulu memperjuangkan refor-masi. PKS merupakan hasil
transformasi dari Partai Keadilan yang tidak mendapatkan suara signifikan pada
pemilu 1999. Meskipun Partai Keadilan melebur ke dalam PKS, tetapi ada beberapa
hal yang tidak sama di antara kedua partai tersebut.
Salah satunya adalah perbedaan pada
manifesto dan program Partai Keadilan yang tidak menyebutkan sama sekali
Pancasila dalam artian sangat konservativ. Berbeda dengan PKS yang beraliran Islam modernis, PKS justru menyebutkan
Pancasila dalam tujuan partainya. PKS merupakan partai yang dibentuk kalangan
cendikiawan Muslim dan aktivis dakwah dari berbagai kampus.

Komentar
Posting Komentar